Selasa, 07 Agustus 2012
Minggu, 05 Agustus 2012
Sejarah Masjid Lawang Kidul Palembang.
Published :
Minggu, Agustus 05, 2012
Author :
Unknown
Masjid Lawang Kidl adalah salah satu masjid tua di kota Palembang. Masjid ini terletak di tepian Sungai Musi di semacam tanjung yang terbentuk oleh pertemuannya dengan muara Sungai Lawangkidul, di kawasan Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II. Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H(1890 M).
Read More ->>
Ulama ini lebih dikenal sebagai Kiai Merogan. Panggilan itu merujuk pada tempat tinggal dan aktivitasnya yang banyak di kawasan muara Sungai Ogan (salah sat anak Sungai Musi) di kawasan Seberang Ulu. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang yang sukses. Kiai Merogan dilahirkan pada tahun 1811 M dan wafat pada 31 Oktober 1901. Ulama ini dimakaman di areal Masjid Ki Merogan, salah satu masjid yang dibangun selama syiar Islamnya.
Selama berdakwah-sebelumnya, dia menetap di Mekkah, Saudi Arabia, tetapi mendapat bisikan untuk kembali ke kampong halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan. Karena itu pula, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang serta tiga pemondokan jemaah haji di Saudi Arabia, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (OKI).
Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan, yang makamnya dikeramatkan hingga kini dan dipercaya membawa berkah bagi para peziarah yang memanjatkan doa di makam itu.
Sebagai salah satu warisannya, Masjid Lawang Kidul hingga kini masih menampakkan kekukuhan dan kemegahan perkembangan Islam di kota ini. Hingga sekarang, masjid yang bangunan induknya memiliki luas lantai lebih kurang 20X20 meter itu, sebagian besar masih asli. Namun, terdapat bangunan tambahan sehingga luasnya saat ini menjadi 40X41 meter.
Pemugaran dilaksanakan pada 1983-1987 lalu. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti. Bagian yang diganti itu terutama bagian atapnya yang semula genting belah bamboo. Karena genting jenis itu tidak ada lagi, diganti dengan genting genting kodok.
Konon, material bangunan itu terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu unglen.
Interior mesjid, juga masih menampakkan keaslian. Empat saka guru memiliki ketinggian delapan meter dengan 12 pilar pendamping setinggi lebih kurang enam meter, Kesemua tiang bersudut delapan. Empat alang (penyangga) atas sepanjang 20 meter juga terbuat dari unglen tanpa sambungan.Masjid Lawang Kidl adalah salah satu masjid tua di kota Palembang. Masjid ini terletak di tepian Sungai Musi di semacam tanjung yang terbentuk oleh pertemuannya dengan muara Sungai Lawangkidul, di kawasan Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II. Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H(1890 M).
Ulama ini lebih dikenal sebagai Kiai Merogan. Panggilan itu merujuk pada tempat tinggal dan aktivitasnya yang banyak di kawasan muara Sungai Ogan (salah sat anak Sungai Musi) di kawasan Seberang Ulu. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang yang sukses. Kiai Merogan dilahirkan pada tahun 1811 M dan wafat pada 31 Oktober 1901. Ulama ini dimakaman di areal Masjid Ki Merogan, salah satu masjid yang dibangun selama syiar Islamnya.
Selama berdakwah-sebelumnya, dia menetap di Mekkah, Saudi Arabia, tetapi mendapat bisikan untuk kembali ke kampong halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan. Karena itu pula, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang serta tiga pemondokan jemaah haji di Saudi Arabia, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (OKI).
Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan, yang makamnya dikeramatkan hingga kini dan dipercaya membawa berkah bagi para peziarah yang memanjatkan doa di makam itu.
Sebagai salah satu warisannya, Masjid Lawang Kidul hingga kini masih menampakkan kekukuhan dan kemegahan perkembangan Islam di kota ini. Hingga sekarang, masjid yang bangunan induknya memiliki luas lantai lebih kurang 20X20 meter itu, sebagian besar masih asli. Namun, terdapat bangunan tambahan sehingga luasnya saat ini menjadi 40X41 meter.
Pemugaran dilaksanakan pada 1983-1987 lalu. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti. Bagian yang diganti itu terutama bagian atapnya yang semula genting belah bamboo. Karena genting jenis itu tidak ada lagi, diganti dengan genting genting kodok.
Konon, material bangunan itu terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu unglen.
Interior mesjid, juga masih menampakkan keaslian. Empat saka guru memiliki ketinggian delapan meter dengan 12 pilar pendamping setinggi lebih kurang enam meter, Kesemua tiang bersudut delapan. Empat alang (penyangga) atas sepanjang 20 meter juga terbuat dari unglen tanpa sambungan.
Sejarah Masjid Agung Palembang.
Published :
Minggu, Agustus 05, 2012
Author :
Unknown
Masjid Agung Palembang merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Konon masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.
Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.
Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Mesjid Sultan ini pada awalnya tidak mempunyai menara. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) barulah dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menaranya seperti pada menara bangunan kelenteng dengan bentuk atapnya berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan.
Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.
Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Mesjid Sultan ini pada awalnya tidak mempunyai menara. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) barulah dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menaranya seperti pada menara bangunan kelenteng dengan bentuk atapnya berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan.
Bentuk masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Agung, jauh berbeda tidak seperti yang kita lihat sekarang. Bentuk yang sekarang ini telah mengalami berkali-kali perombakan dan perluasan. Pada mulanya perbaikan dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan penambahan/perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Pada pekerjaan renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan.
Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Masjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.
Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi land mark kota hingga sekarang.
Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.
Sejarah Monpera Palembang.
Published :
Minggu, Agustus 05, 2012
Author :
Unknown
Berdiri 22 tahun yang lalu, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) sudah difungsikan sebagai museum penyimpanan benda bersejarah. Terutama, sisa peninggalan perang lima hari lima malam di Palembang.
Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda.
Masuk ke dalam bangunan berlantai lima itu, terasa berbeda dengan penampilan luarnya. Konon, sejak diresmikan penggunaannya tanggal 23 Februari 1988 oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI H Alamsyah Ratuperwiranegara, hingga sekarang koleksi benda-benda bersejarah yang dikumpulkan masih sangat minim.
Pendirian museum sendiri, diawali dengan peletakan batu pertama. Sekaligus pemancangan tiang bangunan HUT Kemerdekaan RI ke-30, 17 Agustus 1975. Saat itu, merupakan masa pergantian tampuk kepemimpinan gubernur Sumsel dari H Asnawi Mangku Alam ke H Sainan Sagiman. “Pengganti Pak Asnawi meneruskan pembangunan Monpera itu,”
Dalam perkembangannya, koleksi masih menjadi kendala utama. “Kesadaran dan pemahaman dari kerabat mantan pejuang kemerdekaan untuk menitipkan benda-benda peninggalan keluarga mereka ke sini, masih kurang,” tukasnya.
Nah, untuk menggugah hati dari keluarga pejuang, para pengurus Monpera sejak beberapa tahun yang lalu mempersiapkan empat unit lemari khusus penyimpanan benda-benda koleksi bersejarah. Sayangnya, hingga kini lemari yang di bagian depannya terpampang tulisan “Lemari Ini Masih Kosong dan Menanti Sumbangan Ahli Waris berikutnya,” kondisinya masing kosong melompong.
“Belum ada satupun koleksi sejarah yang ditempatkan di sini. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang, tingkat kunjungan ke Monpera dari waktu ke waktu tak pernah menunjukkan grafik peningkatan yang mengembirakan,” bebernya lagi.
Berdasarkan data yang ada, tercatat rata-rata tingkat kunjungan pelancong per bulan, lebih dari 100-an orang. Paling ramai, saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.
Hingga kini di monumen yang disebut juga sebagai palagan Palembang itu, hanya terdapat sekitar 300-an koleksi. Di sana, ada foto masa perjuangan enam tokoh perang kemerdekaan.
Mereka masing-masing, dr AK Gani, drg M Isa, Haji Abdul Rozak (Residen Abdul Razak). Kemudian, Mayjen TNI H Bambang Utoyo, Brigjen TNI H Hasan Kasim, dan Kolonel H Barlian. “Foto-foto mereka di pamerkan di lantai satu. Termasuk juga patung-patung dalam berbagai bentuk,”
Di lantai dua, Anda dapat melihat 14 pucuk senjata yang sebagian besar merupakan hasil pampasan perang zaman sebelum kemerdekaan. Ada senjata jenis pistol, senapan, kecepek, ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo doeloe.
“Untuk keamanan bersama, senjata-senjata itu kita tempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Hanya dapat dilihat dari luar. Ini tak lain untuk mengantisipasi ulah tangan-tangan jahil,”
Naik ke lantai tiga museum, terdapat patung yang merupakan replika wajah dari keenam pejuang kemerdekaan asal Sumsel. Juga ada koleksi pakaian dinas baik sipil maupun militer yang dipakai keenam tokoh perjuangan dalam merebut kemerdekaan, itu.
Lantai empat hanya dipakai untuk kantor.
Read More ->>
Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda.
Masuk ke dalam bangunan berlantai lima itu, terasa berbeda dengan penampilan luarnya. Konon, sejak diresmikan penggunaannya tanggal 23 Februari 1988 oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI H Alamsyah Ratuperwiranegara, hingga sekarang koleksi benda-benda bersejarah yang dikumpulkan masih sangat minim.
Pendirian museum sendiri, diawali dengan peletakan batu pertama. Sekaligus pemancangan tiang bangunan HUT Kemerdekaan RI ke-30, 17 Agustus 1975. Saat itu, merupakan masa pergantian tampuk kepemimpinan gubernur Sumsel dari H Asnawi Mangku Alam ke H Sainan Sagiman. “Pengganti Pak Asnawi meneruskan pembangunan Monpera itu,”
Dalam perkembangannya, koleksi masih menjadi kendala utama. “Kesadaran dan pemahaman dari kerabat mantan pejuang kemerdekaan untuk menitipkan benda-benda peninggalan keluarga mereka ke sini, masih kurang,” tukasnya.
Nah, untuk menggugah hati dari keluarga pejuang, para pengurus Monpera sejak beberapa tahun yang lalu mempersiapkan empat unit lemari khusus penyimpanan benda-benda koleksi bersejarah. Sayangnya, hingga kini lemari yang di bagian depannya terpampang tulisan “Lemari Ini Masih Kosong dan Menanti Sumbangan Ahli Waris berikutnya,” kondisinya masing kosong melompong.
“Belum ada satupun koleksi sejarah yang ditempatkan di sini. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang, tingkat kunjungan ke Monpera dari waktu ke waktu tak pernah menunjukkan grafik peningkatan yang mengembirakan,” bebernya lagi.
Berdasarkan data yang ada, tercatat rata-rata tingkat kunjungan pelancong per bulan, lebih dari 100-an orang. Paling ramai, saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.
Hingga kini di monumen yang disebut juga sebagai palagan Palembang itu, hanya terdapat sekitar 300-an koleksi. Di sana, ada foto masa perjuangan enam tokoh perang kemerdekaan.
Mereka masing-masing, dr AK Gani, drg M Isa, Haji Abdul Rozak (Residen Abdul Razak). Kemudian, Mayjen TNI H Bambang Utoyo, Brigjen TNI H Hasan Kasim, dan Kolonel H Barlian. “Foto-foto mereka di pamerkan di lantai satu. Termasuk juga patung-patung dalam berbagai bentuk,”
Di lantai dua, Anda dapat melihat 14 pucuk senjata yang sebagian besar merupakan hasil pampasan perang zaman sebelum kemerdekaan. Ada senjata jenis pistol, senapan, kecepek, ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo doeloe.
“Untuk keamanan bersama, senjata-senjata itu kita tempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Hanya dapat dilihat dari luar. Ini tak lain untuk mengantisipasi ulah tangan-tangan jahil,”
Naik ke lantai tiga museum, terdapat patung yang merupakan replika wajah dari keenam pejuang kemerdekaan asal Sumsel. Juga ada koleksi pakaian dinas baik sipil maupun militer yang dipakai keenam tokoh perjuangan dalam merebut kemerdekaan, itu.
Lantai empat hanya dipakai untuk kantor.
Sejarah Ampera.
Published :
Minggu, Agustus 05, 2012
Author :
Unknown
Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.
Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.
Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini
Read More ->>
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.
Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.
Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini
Sabtu, 04 Agustus 2012
Pentingnya Menjaga Lingkungan.
Published :
Sabtu, Agustus 04, 2012
Author :
Unknown
![]() |
| Kumbang memerlukan tumbuhan |
Tercatat bahwa, sejak zaman industri yang terjadi di Inggris akibat ditemukannya mesin uap, telah mendongkrak perekonomian di seluruh belahan dunia. Teknologi mesin uap berkembang dari tahun ke tahun menjadi sejumlah kendaraan yang mempercepat kerja manusia. Bahkan untuk menunjang kerja manusia banyak dilahirkan teknologi baru seperti komputer.
Tumbuhan, manusia, hewan serta lingkungan saling ketergantungan. Tumbuhan perlu lingkungan yang baik agar tumbuh, hewan perlu tumbuhan untuk makan, manusia perlu kesemuanya untuk dapat hidup. Semuanya berjalan normal hingga manusia lah yang kemudian merusaknya. Tidak ada satu makhluk pun di muka bumi ini yang sanggup untuk merusak bumi kecuali manusia.
![]() |
| Ekosistem di Kerinci, merupakan ekosistem di tengah kehidupan modern yang masih asri |
Listrik yang dipakai oleh manusia juga menjadi momok, pasalnya listrik dihasilkan oleh suatu generator, sedangkan generator perlu energi lain agar dapat bekerja. Salah satunya adalah energi air yang dihasilkan oleh suatu bendungan besar. Walaupun air tidak menimbulkan hujan asam ataupun global warming, namun yang menjadi masalah adalah bila pembangunan bendungan ini tidak memperhitungkan dampak lingkungan akan menjadi marabahaya bagi manusia juga. Bayangkan, pembangunan bendungan mengharuskan pengorbanan ekosistem yang telah ada di tempat itu. Cara lain pembangkit listrik adalah melalui tenaga nuklir. Ironisnya, walaupun diketahui ramah lingkungan, tapi sebenarnya limbah dari nuklir lebih berbahaya lagi.
Namun, menjaga lingkungan bukan berarti menghentikan teknologi. Tetapi menjadi tantangan bagi manusia untuk membuat teknologi yang sangat ramah lingkungan. Beruntungnya, sejak disadari keunggulan dari nanoteknologi, peralatan modern semakin mengarah kepada ramah lingkungan. Perlu diketahui, Indonesia adalah salah satu negara penghasil nanoteknologi yang paling murah di Indonesia.
Sayangnya, walaupun teknologi ramah lingkungan semakin marak dilakukan, bila perilaku manusia tidak bisa dikendalikan, maka hasilnya juga negatif.
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
About Me
- Unknown
Mengenai Saya
Popular Posts
-
good afternoon
-
People have said the end was near many times—true. However, no prophecy of the latter days meant anything until Israel became a nation ag...
-
Kulit kering tentunya dapat merusak penampilan. Kulit kering utamanya disebabkan oleh iklim, perubahan hormon, perawatan pengelupasan kulit...
-
Sains - drzpost.com - Siapa sih yang gak kenal ama dinosaurus, hewan yang besar yang hidup zaman purbakala dahulu. Dinosauru...
-
Pterosaurus raksasa yang memiliki lebar sayap lebih dari sembilan meter tidak hanya menakutkan. Ia mampu terbang sejauh 10 ribu mil tanpa ...
-
Jakarta Jauh-jauhlah dari narkoba! Barang haram ini secara nyata terbukti menghancurkan pemakainya. Narkoba bisa membuat seseorang menjadi ...
-
Karena ber-hijab adalah kewajiban dari Allah, maka tidak dibenarkan seorang wanita muslimah menyatakan dirinya tidak mantap atau belum siap...
-
Ahmad Mansur Suryanegara, dalam makalahnya yang berjudul “Masuknya Agama Islam ke Sumatera Selatan” [1] menulis yang dapat penulis simpulk...
-
Cara Alami Hilangkan Panu Oleh MeetDoctor.com | Yahoo SHE – Sen, 28 Apr 2014 14:48 WIB Panu merupakan salah satu penyakit kulit yang dit...
Blogger templates
JUDUL BLOG
JANGAN PERNAH MENGHADAP BELAKANG SELALU MENGAHADAP KE DEPAN
Archive
-
▼
2014
(417)
-
▼
Mei
(200)
- Anak Indonesia Raih Predikat Terbaik Di Manchester...
- Rafael Merasa Semakin Matang
- Sir Alex Ferguson: Tak Ada Masalah Dengan Rio Ferd...
- hitler mati di indonesia
- 7 penampakan hantu
- sir alex ferguson
- Adapun kandungan madu menurut USDA Nutrient ...
- Manfaat Lumut Manfaat lumut bagi kehidupan ma...
- Buta karena ponsel, mungkinkah?
- Tingkatkan kesehatan penglihatan dengan minum seca...
- Ini 4 masalah umum mata dan cara mengatasinya
- 4 Tips sehat ini harus diikuti para pemakai lensa ...
- Istri Munir: Prabowo merusak demokrasi, Jokowi bel...
- Mitos di balik gurihnya pecel lele
- Anak buah tersangka korupsi proyek Transjakarta, i...
- Penduduk di Desa Ini 'Meleleh' Jika Kena Sinar Mat...
- Dituduh Menggoda Mudjie Massaid, Wajah Baby Margar...
- Bayi Warga Miskin di Aceh Jadi Sasaran Sindikat un...
- Penggemar Justin Bieber Minta Cium Pipi, Malah Ber...
- Kaki Terlindas Mobil, Rezeki Rp 300 Juta Artis Ini...
- Penemuan Mayat Model Dewi Apriani Hebohkan Warga A...
- Cara Membedakan Smartphone Android Asli dengan And...
- Berani 'Uji Nyali' dengan Berwisata Ke Perbatasan ...
- Punya Usaha di Bandung? Siap-siap Pemutihan Izin
- Serunya, Hotel Ini Gunakan Tema Negeri Dongeng!
- Bagi-bagi es krim juga bikin Wali Kota Bandung marah
- PT Unilever Indonesia akan minta maaf langsung ke ...
- Steve Bruce Turunkan Lapis Kedua Hadapi Everton
- Hidup Sehat Dengan Makan Sekali Sehari
- Pengunjung Festival Jajanan Bango 2014 Dihibur Pro...
- Kembang Goyang
- Es Tebu
- Siapa Lebih Pantas: Zooey Deschanel vs Taylor Swift
- Belajar Memasak Lebih Nyaman dan Efisien Jika Dapu...
- Serunya, Jepang Ciptakan Es Krim Unik dengan Rasa ...
- Cukup Dua Alasan Kenapa Asyik Hangout di Convivium!
- Resep Mi Ayam Jamur
- Resep: Nugget Bayam
- Cuciwis Cah
- Resep Bayam Goreng Tempura
- Studi: Kopi Lebih Sehat Jika Dikonsumsi Tanpa Gula
- Oseng Oseng Buncis
- Hati-Hati, Pakai Jaket saat Berlari Berbahaya Lho
- Coba Escolar, Ikan Monster Si Peluruh Lemak
- Apakah Anda Pedofil?
- Menu Chicken Wing di KFC Cina Ini Diberi Julukan '...
- Terinspirasi Serial Animasi, Wanita Ini Ciptakan S...
- Ini Dia 'Food Truck' Sate Halal Asal Indonesia di ...
- Yuk Intip Cara Mudah Membuat Puding Lezat, Puding ...
- Unik, Gerai Ini Hanya Sajikan Dua Helai Udon untuk...
- Pasang Papan Iklan dari Ratusan Kelinci Sungguhan,...
- Makan di Kafe Ini Bisa Bayar Sesuka Hati! Ada Apa ...
- Resep Kebab Cilok
- Resep Ayam Masak Hijau
- Resep Ayam Kukus Bumbu Sereh
- Resep Udang Goreng Masak Mede
- Resep Udang Goreng Mayonaise Special
- Resep Ayam Goreng Kremes
- Resep Udang Saus Padang
- Resep Ayam Tangkap
- Resep Jamur Isi Udang
- Ayam Masak Dibuluh
- Resep Udang Goreng Siram Mayones
- Resep Sup Jamur Asam Pedas
- Pancake Kentang untuk Vegetarian
- Resep Kentang Goreng Pedas
- Yuk, Cobain Resep Simpel Bikin Bola Cokelat Sendiri
- Resep Cilok Keju Sambal Bangkok
- Cobain Resep Mudah Buat 'Lamb Cookies' untuk Teman...
- Kenalan dengan 'Indigo Rose', Buah Hasil Persilang...
- Resep Cilok Isi Telur Puyuh
- Yuk Intip Cara Mudah Membuat Puding Lezat, Puding ...
- Kumpulan Kata Kata Lucu Gokil
- I GOT A BOY lyrics [Hyoona] Ayo! AG! Yeah Yeah sh...
- Inilah 4 Resep Smoothies Untuk Membantu Turunkan B...
- Es Cincau Hijau
- Resep Sup Oyong Tuna
- Resep Sup Bola Ayam Jagung Pedas
- Resep Sup Daging Kacang Merah
- Resep Sup Jamur Asam Pedas
- Nikmatnya Sup Bawang Roti Tawar
- Segarnya Bubble Tea Di Lima Tempat Asik Ini
- Sup Ayam Jahe Penjaga Kondisi Tubuh
- Sup (Sop) Kaki Kambing Rasamasa
- Resep Sup Ayam Bayam
- Resep Sup Daging Kacang Merah
- Sup Brenebon Iga Sapi
- 5 pemahaman agama teraneh di dunia
- sir alex ferguson
- 5 fakta tentang ferguson
- Belalang hanya mampu melompat pada temperatur mini...
- Kunyit atau kunir tentunya tidak asing di telinga...
- Sebagai Negara dengan iklim tropis, sangat ...
- Mengatasi Jerawat Dengan Lidah Buaya Menurut...
- Beranda » Obat Tradisional ...
- Manfaat Daun Sirsak Dan Buah Sirsak Serta Kandunga...
- Ahok: Saya sudah marah kejam, ini lebih gila lagi!
- Mamma Mia: Resep Tiramisu ala Chef Matteo Meacci
- Mamma Mia!: Steak dengan Jamur ala Chef Matteo
- Mamma Mia!: Resep Fettucine Saus Pesto oleh Chef M...
-
▼
Mei
(200)


